Senin, 16 November 2009

Festival Budaya Temanggung







Minggu, 15 Nopember 2009, di di sepanjang jalan R. Suprapto – alon-alon dan ke arah Barat di jalan MT Haryono Temanggung digelar festival budaya yang disebut sebagai Festival Budaya Temanggung. Acara tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi Temanggung ke-175 Kabupaten Temanggung . Acara seperti ini biasanya dikemas dalam bentuk pawai atau kirab, tetapi untuk tahun ini setiap kesenian mempunyai tempat tetap disepanjang jalan. Saking banyaknya kesenian yang tampil, panjang total stand atau lokasi kesenian bisa lebih dari 1 km.

Acara tersebut menampilkan 31 jenis kesenian antara lain sorengan, kubro, prajuritan, kuda lumping, rebana, dayakan, barsomah dan berbagai macam kesenian tradisional lainya. Menurut beberapa sumber, kegiatan tersebut jare melibatkan 91 kelompok yang melibatkan sedikitnya 900 seniman tradisional.

Jalanan temanggung hari itu dipadati oleh masyarakat yang pada turun gunung dari lereng sumbing dan sindoro. Semua tumpah ruah, penuh sesak memadati jalan-jalan, menyaksikan aneka pentas pertunjukan seni yang diminati.


Selasa, 10 November 2009

Sejarah Kabupaten Temanggung


Menurut beberapa sumber, awal berdirinya kabupaten Temanggung tidak bisa dilepaskan dari sejarah kabupaten Magelang saat itu. Dengan meninggalnya Raden Tumenggung Danuningrat Bupati Magelang, maka untuk mengatasi kevakuman pemerintahan, Pemerintah Hindia Belanda dengan cepat berusaha mencari penggantinya. Mendiang Bupati Magelang meninggalkan seorang putra yang bernama Raden Mas Aryo Danukusumo. Ia telah berdinas pada Pemerintah Hindia Belanda sebagai Wakil Kolektur Penghasilan Negeri dan telah menikah dengan putri Bupati Pekalongan. Raden Mas Aryo Danukusumo mempunyai dua orang anak. Ia dikenal sebagai pribumi yang sangat berbudi bahasa dan betapapun masih muda usianya, namun telah banyak mengambil alih kecakapan-kecakapan dari orang tuanya. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan antara lain kecakapan yang dimilikinya, akhirnya Raden Mas Aryo Danukusumo ditunjuk menjadi Bupati sementara daerah Magelang.

Sedangkan untuk daerah Kabupaten Menoreh, Berdasarkan Surat Keputusan Komisaris Jenderal Hindia Belanda, Nomor 11 Tanggal 7 April 1826, Raden Ngabehi Djojonegoro ditetapkan sebagai Bupati Menoreh yang berkedudukan di Parakan, dengan gelar Raden Tumenggung Aria Djojonegoro. Setelah perang Diponegoro berakhir, beliau kemudian memindahkan ibu kota ke kota Temanggung (saat ini).

Kebijaksanaan pemindahan ini didasarkan pada beberapa hal:
1. Adanya pandangan masyarakat Jawa kebanyakan pada saat itu, bahwa Ibu kota yang pernah diserang dan diduduki musuh dianggap telah ternoda dan perlu ditinggalkan.
2. Distrik Menoreh sebuah daerah sebagai asal nama Kabupaten Menoreh, sudah sejak lama digabung dengan Kabupaten Magelang, sehingga nama Kabupaten Menoreh sudah tidak tepat lagi.
Mengingat hal tersebut, atas dasar usulan Raden Tumenggung Aria Djojonegoro, Residen Kedu saat itu (CC. Kartnan) melalui suratnya tanggal 13 September 1834 mengusulkan untuk mengganti nama Kabupaten Menoreh menjadi Kabupaten Temanggung.kepada Pemerintah Hindia Belanda di Batavia. Permintaan tersebut disetujui oleh pemerintahan hindia belanda bahwa nama Kabupaten Menoreh berubah menjadi Kabupaten Temanggung. Persetujuan ini berbentuk Resolusi Pemerintah Hindia Belanda Nomor 4 Tanggal 10 Nopember 1834 bertepatan pada hari Senin Wage tanggal 9 Rejeb tahun Jumakir 1762 H).
Menetapkan bahwa Kabupaten Menoreh ( Karesidenan Kedu ) semenjak sekarang akan memakai nama dari nama ibukotanya sendiri yakni Temanggung, bahwa asisten residen Probolinggo dengan pegawai yang diperbantukan kepadanya akan dipindahkan kesana dan pada waktu yang tepat semenjak sekarang akan memakai nama asisten residen Temanggung.”

Berdasarkan hasil seminar tanggal 21 Oktober 1985, yang diikuti oleh Sejarawan, Budayawan dan Tokoh Masyarakat, ABRI, Rokhaniwan, Dinas/Instansi/Lembaga Masyarakat dan lain-lainnya, maka ditetapkan bahwa tanggal 10 Nopember 1834 sebagai Hari Jadi Kabupaten Temanggung. Jadi berdasarkan ketentuan tersebut, tahun ini Temanggung tepatnya tanggal 10 November kemarin, kota kita berulang tahun yang ke- 175. SELAMAT ULANG TAHUN TEMANGGUNG.

Keberadaan Temanggung yang tercatat sebelumnya ada dalam beberapa prasasti dan catatan sejarah, antara lain:
1. Prasasti Wanua Tengah III, yang ditemukan di dusun Dunglo Desa Gandulan Kecamatan Kaloran.
2. Prasasti Siwagrha terjemahan Casparis (1956 - 288), pada tahun 856 M Rakai Pikatan mengundurkan diri.
3. Prasasti Nalanda tahun 860 (Casparis 1956, 289 - 294), Balaputra dewa dikalahkan perang oleh Rakai Pikatan dan Kayu Wangi.
4. Dalam buku karangan I Wayan Badrika halaman 154, Pramudya Wardani kawin dengan Rakai Pikatan dan naik tahta tahun 856 M. Balaputra Dewa dikalahkan oleh Pramudha wardani dibantu Rakai Pikatan (Prasasti Ratu Boko) tahun 856 M.
Cerita lengkap mengenai isi dan hubungan antara prasasti tersebut dengan Temanggung, insyaallah akan kita sampaikan pada waktu yang akan datang.

Sentra Gendheng (Genteng) dan batu bata desa Tegowanuh



Sejak puluhan tahun yang lalu desa Tegowanuh (masyarakat sekitar lebih familiar menyebut desa ini dengan nama desa Nggoano, ilat wong temanggung biasa keselip, lebih mudah mengucapkan kata Nggoano daripada Tegowanuh) sudah dikenal sebagai pusat industri gendheng (genteng) dan batu bata. Apabila kita melewati desa yang terletak di jalan raya temanggung – Kaloran KM 5 ini, kita akan melihat banyak sekali gendheng dan batu bata yang sedang di jemur dan banyak rumah-rumah pembakaran kedua bahan bangunan tersebut.

Banyak sekali warga desa tersebut yang secara turun temurun menggeluti usaha tersebut sebagai sumber penghidupanya, sehingga perekonomian masyarakat juga banyak dipengaruhi oleh maju mundurnya industri tersebut. Saking banyaknya penduduk yang terlibat dalam industri ini sampai muncul anekdot “bahwa penduduk Goano adalah penjual tanah air”, maksudnya penjual tanah dan air, yaitu gendheng dan batu batu yang note bene merupahan campuran antara tanah dan air (he..he..). Tetapi saat ini industri tersebut mulai mengalami kesulitan terhadap pengadaan bahan baku. Tanah sebagai bahan utama terkadang harus dibeli dari daerah lain, karena tanah bahan untuk gendheng mulai berkurang di situ, maklum saja karena sudah digunakan selama berpuluh-puluh tahun.

Kualitas barang yang diproduksi di sentra desa Goano ini sudah tidak perlu diragukan lagi. Pengalaman yang panjang merupakan jaminan mengnai kualitas gendheng dan batu bata di sini. “Kami tidak mau memproduksi barang berkualitas rendah, karena itu akan mempengaruhi pemasaran kami pada waktu-waktu selanjutnya” demikian disampaikan oleh salah satu pengrajin di sana.

Pasca gempa di Bantul dan Yogyakarta beberapa waktu lalu sempat menjadikan industri ini penuh dengan pesanan. Banyaknya orang yang membangun rumah setelah rusak oleh gempa, menjadikan kebutuhan akan kedua bahan bangunan ini meningkat drastis. Keberhasilan panen tembakau sering juga merupakan barometer yang cukup signifikan terhadap kebutuhan bahan bangunan secara lokal.

Kita semua berharap industri ini akan terus berkembang dan mendapat perhatian serius dari pemerintah kabupaten. Perhatian tersebut dapat berupa bantuan promosi, pameran, pembinaan teknis dan menagemen, serta bantuan permodalan untuk membesarkan dan meningkatkan daya saing produk. Tanpa perhatian dari pemerintah, mungkin sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, gendheng Nggoano hanya akan menjadi kenangan karena kalah bersaing dengan gendheng dari pabrik-pabrik besar.

Selasa, 03 November 2009

Oleh-Oleh Khas Temanggung

Selama ini saya sering bingung kalo ditanya teman-teman saya mengenai makanan khas temanggung. Kayaknya kita nggak punya makanan khas yang cukup melegenda sampai keluar daerah. Yang saya tahu kita punya entho cothot dan empis-empis, dua makanan yang susah saya temui di tempat lain. Tetapi kedua makanan maknyus tersebut juga ternyata nggak begitu dikenal di luar Temanggung. Beberapa makanan lain seperti karag, balung kuwuk, gimbal dan tahu susur juga ada simana-mana, bukan hanya di temanggung.

Tetapi saat iseng-iseng saya browsing, ternyata ada banyak industri makanan yang pembuatanya tersebar di wilayah temanggung. Bahkan beberapa sudah mampu memasarkannya sampai keluar daerah.

Bila sampeyan termasuk perantau dan kebetulan pulang ke temanggung bisa mencoba cemilan-cemilan seperti:
1. keripik jagung
2. Kopi Bubuk
3. Pisang Aroma
4. Criping Talas

Makanan-makanan tersebut bisa menjadi salah satu alternatif oleh-oleh buat teman atau kerabat.

(Cicak VS Buaya) Di Temanggung ada “Buaya”?

Sepanjang siang dan malam hari kemarin (3 November 2009) hampir seluruh media sibuk mengulas kasus “Cicak vs Buaya” , hebohnya kemelut KPK, Kepolisian dan kejaksaan. Kecurigaan sebagian besar masyarakat akan adanya grand skenario untuk pembusukan KPK oleh oknum petinggi polisi dan jaksa, mulai terkuak dengan dibukanya rekaman pembicaraan oknum-oknum yang terlibat.

Sebagai wong cilik, kita yang hanya bisa mendengar dan merasakan tanpa bisa bersuara, sebenarnya sudah sangat menyadari bahwa SUPREMASI HUKUM yang biasa digembar-gemborkan para petinggi itu hanyalah entut berut. Lha wong setiap hari kita tahu bahwa hukum itu justru digunakan oleh para oknum sebagai jimat untuk memeras je.. Undang Undang lalulintas jadi jimatnya “oknum jalanan” untuk priiiiit, 40 ewu. Pengin SIM? Asal punya duit, sampeyan ga perlu bisa nyetir... Tinggal foto.., isi bio data.., bisa dapat SIM. Lha wong kecopetan aja.., kalo kita lapor juga masih diminta uang administrasi kok. Apa lagi kalo sampai ditahan dan jadi terdakwa di kepolisian.., bisa dhedhel duwel kita.

Tapi itu duluu banget, itu juga jarene mbah buyut. Saya nggak tahu apa sekarang ya masih ada “buaya-buaya” macam itu? Apalagi di temanggung , ada buaya seperti di Indonesia pusat sana nggak yo........? he..he.. (nyong ra wani ngomong ah..).

Jumat, 30 Oktober 2009

INTERNET MURAH, BERKAH BUAT WARGA PUCUK GUNUNG

Judul ini sebenarnya hanya merupakan pemikiran saya saja, yang terilhami oleh semakin majunya dunia telekomunikasi akhir-akhir ini. Pada era 80 sampai 90-an awal, saya bahkan tidak memayangkan kampung saya yang ada di pelosok candiroto bakal terjangkau oleh yang namanya telepon. Saat itu gak kebayang bakal ada telepon tanpa kabel yang mampu di beli oleh orang-orang kampung macam saya. Sekarang.., bahkan mau ngarit saja tidak ketinggalan yang namanya HP. Teknologi memang menakjubkan....

Pada tahun 90-an awal, orang yang bisa menggunakan komputer (saat itu masih jaman WS dan LOTUS) masih cukup jarang dan menjadi suatu kebanggan tersendiri. Ijasah komuter selalu ditonjolkan pada saat melamar kerja . Tapi saat ini dunia internet sudah sangat akrab digauli oleh remaja-remaja di kampung-kampung.

Adanya paket pra bayar yang relatif murah seperti
Produk SMART Telecom , mobi, IM3 dll yang menyediakan paket internet cukup murah (berkisar Rp. 50.000,- samapai Rp. 250.000), sangat memungkinkan bagi warga seperti di kampung saya untuk bisa melihat dunia dengan biaya yang terjangkau.

Kalau kita mau dan mau belajar, internet bahkan bisa menjadi salah satu alternatif untuk dijadikan salah satu sumber penghasilan. Tersedia cukup banyak layanan yang bisa mengasilkan uang dari sini, misalnya PTC , PTR , adsense, dll. Bagi pemula seperti saya, kita bisa mulai dari yang paling mudah dulu, misalnya dengan browsing melalui interad media.com, yang mau membayar kita saat kita browsing dengan menggunakan yahoo. Saya sudah mencobanya.., dengan sedikit trik-trik , saya bisa mendapatkan 8–10 US$ dalam waktu 9 jam.

Kamis, 29 Oktober 2009

Jebulnya Wong Ndeso itu Hebaat

Ketika pertama kali membuat blog tentang Temanggung, saya membayangkan akan mudah sekali terindeks oleh mbah google. Wong Temanggung itu begitu kecilnya, dengan penduduknya yang mayoritas petani, gek di tambah lagi secara ekonomis temanggung itu juga bukan sebuah wilayah yang punya industri yang banyak dan besar. Gampangnya.., bagi saya yang lahir dan besar di sana, Temanggung itu ndeso.., kuper dan gak gaul.

Dugaan saya tersebut ternyata salah bin ngawur. Ternyata wong-wong temanggung itu banyak sekali yang pinter-pinter, dan berita tentang temanggung itu suangat lan banyaknya. Waktu saya mencari kata temanggung, ketemu 2.490.000 kata yang terindeks di google. Baru sadar saya bahwa ternyata yang kuper dan ndeso itu justru saya.

Bahkan beberapa desa mempunyai blog yang sudah sangat hebatnya seperti mondoretno, putat dll. Beberapa orang juga sudah menjadi internet marketing yang sangat markotop, seperti kaos GAGE, dll. Tidak kalah sangarnya juga web beberapa sekolah seperti SMA 3, SMA2, SMK Swadaya, stemba dll, yang sudah menjadi jawara di dunia maya. Bahkan beberapa tentang temanggungan juga cukup ramai.

Elok.., ing atasnya orang-orang kaki gunung sumbing, sindoro dan prahu yang dingin dan ndeso tersebut ternyata kemampuannya sangat ngedap-edapi. Jebulnya wong temanggung cukup nggegirisi.., salut buat warga temanggung. Saya sangat pengin belajar dari beliau-beliau yang hebat-hebat tersebut.

Jumat, 23 Oktober 2009

Sejarah Jumprit, sebuah mitos?


Cerita ini saya ambil dari email mas Akhmad Masun di sebuah milis.


Jumprit boleh dikatakan sebagai bagian dari sejarah runtuhnya Majapahit. Karena dari catatan yang ada nama Jumprit sendiri merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keberadaan salah satu penasehat Bre Kertabumi ( Raja Majapahit yang terakhir ) yaitu Pangeran Singonegoro.
Alkisah waktu itu, Kerajaan Islam Demak yang diperintah oleh Raden Patah terus melakukan perluasan daerah termasuk ke dalam wilayah Kerajaan Majapahit.. Ada yang tunduk dan ada yang tidak tunduk terhadap kepemimpinan baru di bawah Raden Patah. Salah satunya adalah Pangeran Singonegoro yang tidak tunduk, sehingga beliau akhirnya mengasingkan diri ke dataran tinggi di daerah Tegalrejo Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Bersama dengan Pangeran Singonegoro waktu itu adalah istrinya dan kedua pengawalnya yaitu Mahesa Aduk dan Endong Wulung serta seekor kera putih yang bernama ki Dipo. Kemudian Pangeran Singonegoro bertapa dan menyebarkan ajaran agama Hindu disekitar daerah Tegalrejo bersama istrinya sampai dengan akhir hayatnya. Setelah Pangeran Singonegoro meninggal sang kera putih ( Ki Dipo ) tetap menjaga makam beserta keturunannya sampai sekarang. Sedangkan kedua pengawalnya Mahesa Aduk dan Endong ukung turun gunung dan akhirnya mendirikan Candi Pringapus yang lokasinya tidak jauh dari makam Pangeran Singonegoro dan bermukim disitu sampai akhir hayatnya.
Sedangkan nama Jumprit sendiri berasal dari salah seorang penduduk Kulon Progo. Cerita singkatnya adalah ketika itu Ki Jumprit, salah seorang penduduk yang tinggal di tepi Kali Progo terkena penyakit kulit yang parah dan tidak bisa disembuhkan. Karena sudah merasa tidak ada yang bisa menyembuhkan penyakitnya maka Ki Jumprit berniat mengakhiri penderitaannya dengan bunuh diri. Pada saat itulah datang wangsit yang memerintahkan agar Ki Jumprit mandi di Sendang yang berdekatan dengan Makam Pangeran Singonegoro. Dan akhirnya setelah mandi di sendang tersebut, penyakit kulit yang diderita sembuh dan selanjutnya Ki Jumprit menjadi juru kunci di tempat tersebut sampai akhir hayatnya. Untuk menghormati keberadaan juru kunci tersebut maka dinamakanlah sendang tersebut dengan nama Jumprit sampai sekarang.
Untuk menuju ke tempat ini tidaklah terlalu sulit, karena hanya berjarak sekitar kurang lebih dua puluh enam kilometer dari Kota Temanggung arah Ngadirejo. Jalan menuju tempat ini dari Temanggung juga terbilang bagus, namun berkelok-kelok dan turun naik seperti pada umumnya kontur jalan pegunungan. Karena sejarahnya tersebut banyak orang yang berkunjung kesini untuk mendapatkan khasiat air sendang jumprit untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Namun diluar itu semua dengan segala kekurangannya tempat ini memang layak dikunjungi untuk sekedar menikmati suasana khas pegunungan atau melepas kepenatan selepas melakukan rutinitas sehari-hari. Puluhan monyet yang menurut sejarahnya adalah keturunan Ki Dipo juga bisa kita saksikan bergelantungan di pohon maupun yang bermain-main disekitar lokasi parkir mobil.

Berada diketinggian sekitar delapan ratus meter di atas permukaan air laut di salah satu sisi Gunung Sindoro menjadikan tempat ini sangat sejuk sekaligus berpadu dengan keindahan alam pegunungan. Namun minimnya sarana dan prasarana juga mempengaruhi minat wisatawan yang berkunjung kesini. Di seberang sendang Jumprit memang terdapat kolam renang namun dengan kondisi yang kurang terawat. Begitupun dengan lokasi MCK yang ada nampak sedikit kotor dan kurang terjaga kebersihannya. Rumah makan pun tidak tersedia, hanya ada beberapa penjual bakso disekitar sendang Jumprit. Keuntungan lain berkunjung kesini adalah selepas dari Jumprit perjalanan bisa dilanjutkan ke perkebunan Teh Tambi yang indah dan selanjutnya ke dataran tinggi Dieng karena tempat-tempat tersebut merupakan satu arah kalau ditempuh dari arah Jumprit.

Senin, 19 Oktober 2009

SUMBING – SINDORO, IKON DAN KEBANGGAN TEMANGGUNG



Inilah gambar gunung yang menjadi kebanggan wong Manggung. Kedua gunung yang sudah tidak aktif lagi ini telah menghidupi sebagaian besar warga temanggung karena telah merelakan tubuhnya dipaculi oleh petani seperti lik bawon, pak dhe petruk dan kawan-kawan selama ratusan tahun untuk di tanami tembakau.

Sebagai komoditi utama, tanaman tembakau sangat cocok di tanam di lereng kedua gunung tersebut. Dengan ketinggiannya yang 3153 mdpl (Sindoro) dan 3.371 m dpl (Sumbing), mempunyai tanah yang subur dan relatif lembab. Kondisi tanah seperti itu juga sangat cocok untuk tanaman sayur, seperti kol, cabai, tomat, brokoli, terong, dll.
Komoditi sayur ini sekarang juga mulai bayak di minati oleh para petani di lereng kedua gunung ini.

Kedua gunung ini juga menjadi semacam ajang pelatihan bagi para pendaki dan pecinta alam lokal, mengingat faktor jarak yang dekat dan ketinggian yang cukup signifikan. Bahkan ada semacam ritual tahunan bagi para pendaki dan warga setempat untuk beramai-ramai mendaki puncak Sindoro setiap malam 1 suro (muharam) dan setiap malam 21 puasa (Ramahan) di puncak Sumbing. Pada waktu-waktu tersebut para pendaki dadakan yaitu warga sekitar dan pendaki (beneran) bercampur baur di puncak gunung. Jumlahnya mencapai ribuan orang. Saking banyaknya, dulu (sekarang masih ada atau tidak ya?) bahkan sampai penjual bakso rela memikul barang dagangannya ke puncak gunung. Elok.., kita Saja ngos-ngosan bawa ransel ke puncak. Gimana rasanya mikul baso ke puncak sindoro?

Jalur pendakian gunung Sumbing biasanya para pendaki bisa melalui Kledung (letaknya tepat di antara gunung sumbing dan Sindoro, semacam puncak pass-nya Wonosobo Temanggung), desa Cepit dan dari Magelang. Semenatara untuk jalur pendakian Sindoro, para pendaki bisa melalui Kledung atau melalui Jumprit.

TEMANGGUNG SELAYANG PANDANG


Kabupaten kecil yang terletak di kaki gunung sumbing dan sindoro ini sebelumnya nyaris tidak di kenal di dunia, bahkan untuk ukuran Indonesia saja nama Temanggung hanya sebagian kecil orang yang tahu. Tetapi sejak adanya penggrebekan teroris di sana beberapa waktu lalu, Temanggung mendadak menjadi populer bagi masyarakat (khususnya Indonesia). Sebagai asli wong temanggung, saya mesti berterima kasih kepada nurdin (meskipun akhirnya diketahui ternyata dia) yang telah secara tidak langsung menjadikan kota kami sedemikian ngetop. (sorry din.., untuk pekerjaanmu yang lain sebagai teroris kayane wong temanggung ga pada suka).

Secara budaya, posisi Temanggung diapit oleh triangle budaya, yaitu Yogyakartan, Semarangan dan Banyumasan. Dengan posisi tersebut, bahasa dan budaya masyarakat Temanggung asli menjadi unik. Di bilang mirip yogya.., tidak. Semarang.., tidak. Banyumas juga bukan. Banyak kata dan idiom yang sangat khas wong temanggung, seperti de’e, samang, nda’an, mberuh, jidor, prek, ndais, urik, gigal, dll.
Begitupun dengan logatnya yang sangat khas.., seperti kebiasaan seringnya menggunakan kata to? (baca to, seperti pada kata tomat). Ada juga kesenian dan tradisi seperti jaran kepang, kobra siswo, padusan, nyadran, dll.

Masih banyak keunikan-keunikan lain dari kota kecil ini akan akan kita bahas nanti pada waktu-waktu mendatang. Jadi buat wong temanggung yang ada di rantau, mari kita sedikit bernostalgia dengan kampung halaman di blog ini. Buat yang setia mbangun deso di temanggung, kita juga bisa bertukar pikiran sama saudara-saudara kita yang ada di manapun di penjuru bumi ini dengan lebih murah dan cepat di blog ini. Pun, bagi yang bukan orang temanggung, anda bisa mengintip temanggung dari sini, siapa tahu anda mau berinvestasi, berlibur, atau sekedar memuaskan rasa ingin tahu anda.